Bukan Ibu Tiri
Alasan kenapa aku tak menulis belakangan ini hanya dikarenakan masalah keluarga yg sangat klasik. Masalah yg sering aku lihat di sinetron-sinetron mendapat hujatan dari sejuta umat yg tak menyukai sinetron. Ratapan anak yg bukan anak tiri terjadi di depan mata kepalaku sendiri, dialami oleh istriku sendiri. Entah kenapa firasatku utk masalah yg menimpa kami beberapa hari lalu sudah ada di benakku. Pemikiranku tentang “buruk”nya mertuaku itu didukung oleh orang-orang sekitar rumah, bahkan keluarga dari pihak istriku sendiri membenarkan akan itu.
Dalam hidupku yg alhamdulillah cukup bahagia, baru kali ini melihat kasus yg sangat ganjil menurutku. Dimana-mana terjadi kisah ketidakakuran antara menantu dan mertua. Tetapi ini lain ! malah ketidakakuran itu terjadi kepada istriku terhadap mertuaku, yaitu Ibunya sendiri. Istriku berulang kali mencoba utk bersabar menghadapi Ibu kandungnya yg aku bisa bilang sudah terlewat tak menyanyangi istriku lagi. Puncak dari masalah ini semua adalah dua malam lalu ketika istriku tengah makan malam sendiri di meja makan.
Malam itu !
Aku telah menutup mata di kamar dan tak tau persis apa yg terjadi diluar. Aku hanya sadar ketika terbangun melihat istriku tengah menangis di ujung ranjang tanpa berani membangunkanku. Terdengar suara mesin motor baru menyala dan melejit kencang sehingga bunyinya kecil menjauh. “Apakah itu Papah sayang ?” aku menanyakan kepada istriku yg tengah menangis. Dia tak menjawab, hanya ingin menenggelamkan tangisnya yg semakin dalam. Aku mencoba hibur dengan pelukan hangat, dan tiba-tiba ada suara manis begitu pelan berbisik
“istirahat aja sayang” saran istriku pelan
“bukan itu yg kumau jawabannya sayang” aku mendesak dia utk menjawab
Dengan isak tangis kata demi kata dia mencoba utk menjelaskan apa yg tengah terjadi. Pada awalnya istriku di nasehati karena dia kurang begitu cekatan menjadi istriku, terus saja, terus saja, dan terus saja dinasehati hingga menjalar ke permasalahan pemberian uang kepada ibu mertuaku. Inilah pokok permasalahan yg tengah terjadi, aku menarik benang merah. Papah mertua berusaha betul utk menenangkan Ibu mertua yg tengah terus-terusan memberondong omelan yg makin lama makin “panas” utk didengar. Istriku tak menjawab katanya menjelaskan. Papah membela istriku yg tengah hamil, di akui istriku kalau setelah pulang kerja kekuatannya hampir habis sehingga mengangkat tubuhnya yg cantik pun tak mampu.
Hamil muda memang tak mudah, mual, pusing, lemas dan seneng leyeh2 adalah rutinitas yg tak bisa di elakkan. Memang sih ada wanita lain yg hamil muda tak cepat lelah.
Papah terus saja mengatakan “sudah bu, anakmu itu lagi hamil wajar dunk” ibu tetap saja tak menggubris kata-kata papah, dan papah “naik darah karenanya” papah membentak Ibu begitu kerasnya hingga membuat istriku menangis. Dimulailah drama yg mengurai tangis, Istriku masuk kamar dan papah pergi menggunakan motor. Saat itulah aku terbangun melihat istriku menangis di ujung ranjang, aku mencoba menenangkannya lagi hingga dia benar-benar tak lagi mengeluarkan air mata.
Alhamdulillah istriku tenang tak lama, yg kukhawatirkan adalah kandungannya yg masih belum kuat. Stress juga bisa menjadi pacuan keguguran ketika kandungan tersebut masih berumur kurang dari enam bulan. Aku ajak dia utk istirahat, terbaring kurangkul hingga dia benar-benar merasa tenang. Serambi memeluk istriku, otakku terus saja berputar memikirkan hal yg benar2 tak lazim menurutku.
Paginya !
Kami terbangun ketika mentari sudah nampak, itu artinya sholat subuh sudah lewat. Aku mendengar papah mertua tengah sibuk membereskan taman, kekhawatiranku papah tidak pulang sudah lega, ternyata papah pulang entah jam berapa. Papah terus saja menenggelamkan dirinya dalam kesibukan mengutak-atik taman depan rumah, Ibu belum terbangun atau sengaja tak membangunkan diri karena marahnya belum redam. Kami pun siap2 utk kerja karena sangat dipastikan akan terlambat utk kekantor.
Kami sebagai pasangan yg masih ingat orangtua, alhamdulillah selalu memberikan sebagian gaji kami kepada orangtua kami dari masing2 pihak. Jumlahnya pun adil dan tak ada yg di lebih-lebihkan. Bahan-bahan dapur pun kami bantu karena kami masih tinggal di perumahan mertua indah. Tapi hal itu ternyata tak mau dimengerti oleh Ibu, terus saja mengungkit permasalahan yg intinya adalah uang !
Aku sangat yakin, berapapun atau sebanyak apapun tak pernah akan membuat tenang. Uang itu tak membuat bahagia, tak membuat kita terus tertawa. Letak kebahagiaan dari diri sendiri dan itu relative sekali. Ada yg bahagia ketika menangis, ada bahagia ketika memberi, ada bahagia ketika lapar dan semua itu adalah hal-hal kebahagiaan yg relative. Insyallah kejadian ini akan selalu kuingat, bukan karena dendam ! tapi karena ingin dijadikan referensi hidupku utk menghadapi kesulitan ekonomi. Karena uang memang biang masalah.
Aku sangat kasian sekali dengan papah mertua yg merasa “terpukul” ketika Ibu mertua mengeluarkan kata “Menyesal aku menikah denganmu !” Sabarlah Pah, Insyallah semua akan baik2 saja.




(On February 11th, 2010 at 4:15 pm)
Hanya bisa mnendoakan bro…smoga masalah keluarga segera teratasi.

Semangat ya bro…
Sabar…
Jangan mudah putus asa
Salam HumorBendol(Quote)
Like or Dislike:
0
0
[Kalo mau bales !]
(On February 11th, 2010 at 7:00 pm)
permasalahan uang selalu menjadi duri dalam rumah tangga mas, semoga bisa bersabar dengan kondisi ini atau saya sarankan untuk tidak tinggal dengan orang tua atau mertua saja,biar kehidupan kalian berdua sedikit lebih tenang Mamah Aline(Quote)
Like or Dislike:
0
0
[Kalo mau bales !]
(On February 12th, 2010 at 6:12 am)
tinggal di rumah mertua memang banyak suka dukanya ya..
Yessi(Quote)
mungkin ibu lagi ada masalah, mas..jadi gampang emosi gitu.
semoga masalahnya cepat terselesaikan ya
Like or Dislike:
0
0
[Kalo mau bales !]
(On February 12th, 2010 at 4:24 pm)
speechless.. bingung mau komen apa..
Hemmm, semoga kandungannya baik2 saja, sehat dan masalahnya cepat selesai ya
salam, EKA Eka Situmorang-Sir(Quote)
Like or Dislike:
0
0
[Kalo mau bales !]
(On February 16th, 2010 at 6:41 am)
hehehehe…. palajaran awal pengentin baru..
aku juga di bppn peng… sesama orang samarinda yang berusaha mengais rizki di bppn.. salam kenal buat istrimu ya.. padahal waktu itu perna satu bus.. hehehe,
aku juga lagi hamil, istrimu jangan stress2 yah… kasian, he… nit2(Quote)
Like or Dislike:
0
0
[Kalo mau bales !]
(On February 17th, 2010 at 12:51 am)
Astagfirullah, Rian…
Ujian di awal2 pernikahan kalian sudah mulai menerjang.
Mudah2an kalian tetap bersabar ya…
Ide untuk pindah mungkin bisa dipikirkan… Kakaakin(Quote)
Like or Dislike:
0
0
[Kalo mau bales !]
(On February 25th, 2010 at 9:36 am)
jujur saya bingung mau komentar apa, belum cukup umur saya untuk bicara banyak. yah, paling tidak masalah itu bisa segera selesai di rembukkan bersama. semoga saja. hanif(Quote)
Like or Dislike:
0
0
[Kalo mau bales !]