Ramadhan Kali Ini

Puasa memang bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar. Tetapi juga segala macam nafsu yg ada. Hatiku bergetar ketika membaca blog seorang wanita dengan nama rinduku dengan judul “ramadhan terakhir”. Content blog ini memang selalu bisa menyiram hati utk damai dan berfikir agar lebih baik lagi nantinya.

Penulis memberikan penjelasan dalam bentuk cerita entah pengalaman nyata atau tidak. Dia menbeberkan tentang ruginya melewatkan ramadhan jika hanya menahan lapar dan haus. Bayangkan jika ramadhan kali ini adalah ramadhan terakhir kita. Sebuah contoh temannya yg meninggal pada usia masih muda membuat content ini semakin kuat akan maksud yg ingin disampaikan.

Entah setelah membaca content tersebut aku mendapat hidayah atau tidak. Yg jelas aku jadi takut (benar-benar takut) kepadaNya. Walaupun pada kenyataannya kita memang takut kepadaNya. Lihat manusia disekitar kita, apakah ada yg takut ? aku rasa tidak, dan itu termasuk aku. Setelah membaca content tersebut, aku berfikir keras. Kenapa aku tak “bergetar” ketika adzan tiba. Kenapa aku berani tidak sholat, kenapa aku berani mengakui kehebatanku padahal itu milikNya ! terima kasih rindu. Nama itulah aku memanggilnya.

Istriku sedikit lebih heran kemaren sore ketika aku berusaha menunaikan sholat yg sebelumnya aku cuek2 aja. dia bersyukur sekali dengan apa yg kulakukan. Aku pun melakukan hal yg sama. Indah ternyata, ketika kita melakukan sholat dgn hati yg tulus dan melakukan semata-mata bersyukur atas apa yg kita dapat. Ada makna sholat yg mesti difahami terlebih dahulu, dan yg aku tau sholat merupakan cara kita bersyukur. Buang jauh2 ketika sholat utk mencari sebuah pahala.

Perut istriku semakin membesar, ban motorku pun sedikit lebih tertekan gembos ketika dia naik di belakang. Dan hanya perutnya terlihat membesar, moga ini pertanda baik. Calon bayiku mendapat asupan gizi dari bundanya sehingga beratnya mencukupi ketika lahir (Insyallah).

Kelangsungan hidup si anak itu tergantung dari bundanya yg mengandung. Makanan, gizi, perilaku, dan semua hal yg akan dilakukannya didunia sebisa mungkin di perhatikan sejak kandungan. Bukan ayahnya, itulah yg dijelaskan oleh dokter tentang apa yg mesti dilakukan bundanya ketika mengandung.

Terimakasih utk semua teman2 yg sudah baca blog kami, terutama kepada Istriku yg berusaha lebih kuat dan tegar saat mengandung. Moga anak kita lahir dengan selamat dan sehat. Deg-deg’an juga menunggu kelahiran. Dan terimakasih juga kepada Allah SWT, lewat tangan Rindu aku jadi lebih memahami apa itu manusia.

Selamat berpuasa !

Puasa Ala Rian dan Istri

Sahur ramadhan kali ini adalah sahur pertama kalinya kami melaksanakan. Setahun yg lalu kami belum bertegur sapa bahkan belum saling mengenal. Kuasa Allah SWT telah mempesatukan kami lewat segelintir teknologi internet. Dan jadilah ramadhan kali ini aku dan istri memulai sahur pertama dengan penuh hikmah. Setelah menikah kami pun saling mengetahui ternyata doa kami sama. “ingin diberikan jodoh yg seusai” dan ternyata Allah memberikan kejutan besar. Alhamdulillah.

Sesudah magrib kemarin, istriku telah memasak persiapan sahur utk suaminya tercinta. Dan ada hal yg membuat istriku kaget. Biasanya yg pernah dia tau, teman2 ataupun keluarganya, sahur dan buka puasa, berbagai ritual makanan ringan adalah sebuah keharusan. Seperti syrup, tea, kue ini dan itu. Berbuka puasa lengkap dengan makanan ringan sebelum sholat magrib dan makanan berat setelah sholat. Tapi aku tidak, buka puasa dan sahur aku samakan dengan hari2 biasa diluar ramadhan. Apa yg kumakan setiap hari tak jauh beda dengan sahur dan buka puasa. Aku tak perlu disiapkan berbagai macam makanan yg hanya membuatku menumpahkan nafsu. Jadi, istriku tak usah ambil pusing hidangan selama ramadhan. Cukup makanan yg seperti biasa saja. Selama makanan itu sehat dan bergizi apalagi murah, aku sangat lahap utk memakannya. Karena makna puasa bukan terletak dari hebatnya hidangan buka puasa dan sahur. Tetapi lebih kepada ketulusan hati menjalani ramadhan itu sendiri.

Mungkin ramadhan kali ini lebih bermakna bagi kami. Dulu yg sering susah bangun sahur, sekarang punya tanggung jawab yg lain sehingga membuat tak perlu dibangunkan lagi. Tak bangun maka tak sahur. Sedikitnya kami berterimakasih kepada remaja-remaja yg keliling kampung berteriak membangunkan warga utk sahur.

Sebelum nikah, orang tua kami susah sekali utk membuat kami bangun utk sahur. Selalu menggunakan kata “bentar”, “ dikit lagi”. Sehingga sering keluar kata dari orang tua “gimana kalo kamu nikah nanti ??”. Setelah menikah, ternyata hal itu berbeda, seperti kalimat diatas, tanggung jawab udah beralih 180 derajat. Sangat berbeda!

Simple life adalah dasar hidup yg ingin kubangun di keluarga kecilku. Ingin membuang tradisi-tradisi lama yg sebenarnya tak ada didalam Al-quran sedikit demi sedikit. Seperti membeli baju baru sebelum lebaran, atau membuat kue kering buat lebaran sehingga tarawih terlewatkan. Hal-hal semacam itu harus memang segera dibuang.

Insyallah, ketika 10 hari sebelum ramadhan istriku tak kuperintahkan utk sibuk mempersiapkan kue2 lebaran. Yg perlu dipersiapkan hanyalah permintaan maaf utk membersihkan hati. Kue bisa dibeli, baju bisa di cuci tapi hati tak bisa di toleransi. Yg paling penting adalah, Insyallah sebelum lebaran calon bayi kami lahir. Jadi mungkin keinginanku utk lebaran dan ramadhan sederhana ala Rian akan terwujud. Insyallah.

Alhamdulillah istriku wanita yg sholehah, menuruti apa kata suami. Aku ingin hidup sesuai dengan apa yg di ajarkan oleh Al-quran. Dan ramadhan kali ini harus lebih luang memahami lebih isi dan makna dari Al-quran.

Selamat berpuasa. Moga Ramadhan kali ini bisa membawa berkah bagi semua insan.

Kami Telah Mempersiapkan Nama

Entah ini gila atau tidak. Aku dan istri memberi nama calon bayi kami sejak umur kandungan 6 bulan. Nick namenya pun sudah kami resmikan. Jadi ketika mau tidur, makan, sholat, berdoa, main2 waktu bangun pagi kami terus saja memanggil namanya. Bundanya (istriku ingin dipanggil bunda) sering berbicara dengan memanggil namanya dan nama itu belum kami sebarkan sebelum calon anak kami lahir dan sehat. Hanya kami yg tau dan calon bayi kami yg pendengarannya masih samar-samar. Aku sangat senang ketika mau tidur, istriku selalu mengajak bicara calon anak kami. Memberikan dia cerita sebelum tidur, mengajak membaca doa sebelum terlelap.

Nama yg kami berikan bukan terinspirasi dari siapapun, hanya saja kami senang memanggil dengan nama itu. Dan arti nama tersebut muncul dengan harapan ingin sesuai dengan sifatnya kelak. Insyallah akan kami didik sesuai dengan karakter kami berdua. Dan nama itu adalah nama seorang anak laki-laki. Jika memang hasil USG keliru dan ternyata lahir perempuan, kami belum mempersiapkan nama. Aku dan istri tak mempermasalahkan gender, apapun yg diberikan Allah SWT lelaki atau perempuan Insyallah kami bahagia.

Nama bagi seorang manusia itu adalah doa, harapan setiap orang tua terhadap anaknya. Maka dari itu kami sangat berhati-hati dalam memberikan nama. Bukan karena trend ataupun bagusnya ukiran nama. Bagi kami yg penting sederhana dan mudah dimengerti bagi semua kalangan, termasuk semua bahasa dan cara pengucapannya.

Kadang mengingat cara mendidik, dan memberikan dia asupan ASI dan pendidikan terasa mengharukan. Tetapi ketika mengingat apakah sehat atau tidak nantinya terasa mengerikan.

Terima kasih kepada teman2 blog yg sudah bersedia utk membaca dan memberikan komentar dalam bentuk doa (dalam pengertian kami). Kami sangat berterima kasih sekali, karena doa tersebut yg kami harapkan. Bukan hanya kami, tetapi kakek-nenek dan sanak keluarga lainnya. Walaupun dokter menyatakan sehat, aku tak berani berkata akan sehat nantinya.

Tak Lama Lagi (Insyallah)

Jumat malam tepat tgl 6 agustus 2010. aku dan istri menemui dokter utk pemeriksaan rutin kandungan yg sudah berumur 37 minggu. Istriku berjalan bagai badut yg ingin menghibur anak2 pada acara ulang tahun. Perutnya besar, tangannya tak berhenti memegang perut dan sesekali pinggang. Karena si cabang bayi terus saja bergerak sehingga kadang membuat permukaan perut istriku muncul bendolan2 akibat gerakan si bayi.

Itulah derita seorang ibu ketika mengandung seorang anak. Khawatir, senang, sakit, dan segala macam perasaan tercampur jadi satu. Kenapa mesti khawatir ? tak ada yg menjamin kesehatan bahkan dokter sekalipun. Alat2 canggih dan pengetahuan teori kandungan yg terhebat pun tak bisa menjamin anak dalam kandungan akan dilahirkan sehat. Alat yg disebut USG saja bisa salah memperkirakan kelamin si cabang bayi, apalagi masalah kesehatannya!

Malam itu kami mendapat giliran no.1 nomor dimana dokter akan memeriksa istriku utk pertama kalinya utk malam itu. Rumah sakit Husada itupun masih belum ramai pengunjung.

Memasuki ruangan, ternyata dokter tak menanyakan lagi keluhan-keluhan kepada istriku. Biasanya menanyakan keluhan terlebih dahulu, mungkin kami sudah terlalu sering memeriksakan kandungan. Istriku berbaring, seorang perawat membuka sedikit baju bagian perut saja. Di beri pelumas agar sensor USG dapat berjalan mulus di permukaan perut. Rasanya dingin kata istriku. Kadang aku merinding melihat layar yg ditampilkan oleh alat yg bernama USG ini. Seorang anak bayi didalam perut istriku, Subhanallah sering aku ucapkan dalam hati, buah hatiku, keturunanku, cinta ketigaku setelah orangtua dan istriku ada didalam perut istriku. Ada rasa tak sabar utk mencium dan memeluknya. Tapi kekhawatiran akan tak sehat selalu terniang. Apakah itu wajar ? sebuah tendangan psikologis bagi calon seorang ayah ?

Hasil pemeriksaan, dokter memberitahukan kami bahwa si cabang bayi telah mengambil posisi utk lahir. Posisi yg sudah turun sehingga membuat vagina istriku sakit dan sering mau pup. Jika tak ada tanda kelahiran ditandai kontraksi maka kami harus datang lagi pada tgl 26 agustus 2010.

Bagaimana dengan perasaanku ? tidak jauh beda dengan istriku. Semua tercampur menjadi satu, hanya saja saya tidak sakit fisik.

Semoga nanti terlahir sehat, semoga saya menjadi ayah yg baik, semoga istriku kuat menjalani persalinan. “Insyallah aku akan berada disampingmu ketika kamu berteriak keras pada saat melahirkan”

Amien…..