Aug 27th, 2010 | Uncategorized | 1 Comment
Tidak terlalu dini, dan tidak pula terlalu lambat. Istriku telah mengambil cuti melahirkan sebanyak 3 bulan. Itupun diambil karena saran oleh dokternya. Istriku adalah pekerja keras, suka bekerja dan keras kepala. Tapi atas lika-liku aku membujuk rayuan manis, akhirnya dia mau utk mengambil cuti dimulai tgl 25 Agustus 2010 kemaren.
Hari pertama mengambil cuti dia masih saja belum bisa lepas dari pekerjaan, begitu pula hari kedua dan tak tau hari ini. Hanya pindah tempat saja, jemari dan otaknya terus saja bermain di sebuah alat berwarna hitam yg disebut laptop. Tak kalah juga, bayi dalam kandungan turut serta dengan menyundul2 perut dari dalam, sehingga konsentrasi istriku mulai terbagi dua. “Menyenangkan memang jika bekerja diganggu oleh si cabang bayi” itu pengakuan istriku.
Dokter mengatakan setelah memeriksa utk kesekian kalinya, berat bayi dah cukup, placenta juga cukup, posisi utk lahir alhamdulillah bagus (kepala dibawah). Maximal si cabang bayi dalam kandungan adalah hingga tgl 5 september 2010. Jika memang belum lahir sebelum tgl tersebut, entah apa yg akan dilakukan dokter. Moga saja lahir sebelum due date.
Aug 13th, 2010 | Uncategorized | 12 Comments
Puasa memang bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar. Tetapi juga segala macam nafsu yg ada. Hatiku bergetar ketika membaca blog seorang wanita dengan nama rinduku dengan judul “ramadhan terakhir”. Content blog ini memang selalu bisa menyiram hati utk damai dan berfikir agar lebih baik lagi nantinya.
Penulis memberikan penjelasan dalam bentuk cerita entah pengalaman nyata atau tidak. Dia menbeberkan tentang ruginya melewatkan ramadhan jika hanya menahan lapar dan haus. Bayangkan jika ramadhan kali ini adalah ramadhan terakhir kita. Sebuah contoh temannya yg meninggal pada usia masih muda membuat content ini semakin kuat akan maksud yg ingin disampaikan.
Entah setelah membaca content tersebut aku mendapat hidayah atau tidak. Yg jelas aku jadi takut (benar-benar takut) kepadaNya. Walaupun pada kenyataannya kita memang takut kepadaNya. Lihat manusia disekitar kita, apakah ada yg takut ? aku rasa tidak, dan itu termasuk aku. Setelah membaca content tersebut, aku berfikir keras. Kenapa aku tak “bergetar” ketika adzan tiba. Kenapa aku berani tidak sholat, kenapa aku berani mengakui kehebatanku padahal itu milikNya ! terima kasih rindu. Nama itulah aku memanggilnya.
Istriku sedikit lebih heran kemaren sore ketika aku berusaha menunaikan sholat yg sebelumnya aku cuek2 aja. dia bersyukur sekali dengan apa yg kulakukan. Aku pun melakukan hal yg sama. Indah ternyata, ketika kita melakukan sholat dgn hati yg tulus dan melakukan semata-mata bersyukur atas apa yg kita dapat. Ada makna sholat yg mesti difahami terlebih dahulu, dan yg aku tau sholat merupakan cara kita bersyukur. Buang jauh2 ketika sholat utk mencari sebuah pahala.
Perut istriku semakin membesar, ban motorku pun sedikit lebih tertekan gembos ketika dia naik di belakang. Dan hanya perutnya terlihat membesar, moga ini pertanda baik. Calon bayiku mendapat asupan gizi dari bundanya sehingga beratnya mencukupi ketika lahir (Insyallah).
Kelangsungan hidup si anak itu tergantung dari bundanya yg mengandung. Makanan, gizi, perilaku, dan semua hal yg akan dilakukannya didunia sebisa mungkin di perhatikan sejak kandungan. Bukan ayahnya, itulah yg dijelaskan oleh dokter tentang apa yg mesti dilakukan bundanya ketika mengandung.
Terimakasih utk semua teman2 yg sudah baca blog kami, terutama kepada Istriku yg berusaha lebih kuat dan tegar saat mengandung. Moga anak kita lahir dengan selamat dan sehat. Deg-deg’an juga menunggu kelahiran. Dan terimakasih juga kepada Allah SWT, lewat tangan Rindu aku jadi lebih memahami apa itu manusia.
Selamat berpuasa !
Aug 9th, 2010 | Uncategorized | 20 Comments
Jumat malam tepat tgl 6 agustus 2010. aku dan istri menemui dokter utk pemeriksaan rutin kandungan yg sudah berumur 37 minggu. Istriku berjalan bagai badut yg ingin menghibur anak2 pada acara ulang tahun. Perutnya besar, tangannya tak berhenti memegang perut dan sesekali pinggang. Karena si cabang bayi terus saja bergerak sehingga kadang membuat permukaan perut istriku muncul bendolan2 akibat gerakan si bayi.
Itulah derita seorang ibu ketika mengandung seorang anak. Khawatir, senang, sakit, dan segala macam perasaan tercampur jadi satu. Kenapa mesti khawatir ? tak ada yg menjamin kesehatan bahkan dokter sekalipun. Alat2 canggih dan pengetahuan teori kandungan yg terhebat pun tak bisa menjamin anak dalam kandungan akan dilahirkan sehat. Alat yg disebut USG saja bisa salah memperkirakan kelamin si cabang bayi, apalagi masalah kesehatannya!
Malam itu kami mendapat giliran no.1 nomor dimana dokter akan memeriksa istriku utk pertama kalinya utk malam itu. Rumah sakit Husada itupun masih belum ramai pengunjung.
Memasuki ruangan, ternyata dokter tak menanyakan lagi keluhan-keluhan kepada istriku. Biasanya menanyakan keluhan terlebih dahulu, mungkin kami sudah terlalu sering memeriksakan kandungan. Istriku berbaring, seorang perawat membuka sedikit baju bagian perut saja. Di beri pelumas agar sensor USG dapat berjalan mulus di permukaan perut. Rasanya dingin kata istriku. Kadang aku merinding melihat layar yg ditampilkan oleh alat yg bernama USG ini. Seorang anak bayi didalam perut istriku, Subhanallah sering aku ucapkan dalam hati, buah hatiku, keturunanku, cinta ketigaku setelah orangtua dan istriku ada didalam perut istriku. Ada rasa tak sabar utk mencium dan memeluknya. Tapi kekhawatiran akan tak sehat selalu terniang. Apakah itu wajar ? sebuah tendangan psikologis bagi calon seorang ayah ?
Hasil pemeriksaan, dokter memberitahukan kami bahwa si cabang bayi telah mengambil posisi utk lahir. Posisi yg sudah turun sehingga membuat vagina istriku sakit dan sering mau pup. Jika tak ada tanda kelahiran ditandai kontraksi maka kami harus datang lagi pada tgl 26 agustus 2010.
Bagaimana dengan perasaanku ? tidak jauh beda dengan istriku. Semua tercampur menjadi satu, hanya saja saya tidak sakit fisik.
Semoga nanti terlahir sehat, semoga saya menjadi ayah yg baik, semoga istriku kuat menjalani persalinan. “Insyallah aku akan berada disampingmu ketika kamu berteriak keras pada saat melahirkan”
Amien…..
Jun 10th, 2010 | Uncategorized | 3 Comments
Dokter sudah bilang umur kandungan istriku telah mencapai 27 minggu, itu artinya insyallah satu minggu lagi dah genap 7 bulan. Mandi-mandi yg sering-ku liat dalam tradisi, selalu di umbar-umbarkan. Nujuh bulanan sebuah acara yg sama sekali aku tak setuju. Jika acara tersebut dengan maksud bersyukur, bukan hal semacam itu yg ingin aku lakukan. Jika menunjukkan rasa syukur, aku lebih memilih utk memberikan sesuatu kepada anak yatim atau keluarga kurang mampu.
Aku telah menanyakan hal ini kepada teman-temanku yg telah mempunyai anak lebih dari satu. Rata-rata bilang kalo mereka melaksanakan acara nujuh bulanan ketika umur kandungan sudah mencapai tujuh bulan. Ketika aku tanya maknanya, mereka tak bisa menjawab dengan alasan yg tepat.“gak tau, hanya ikut orangtua“ itu kata mereka. Ini yg aku kurang setuju, melakukan sesuatu tanpa tau maksud dan tujuan yg jelas. Anak bukan utk coba-coba.
Idealisme, yup. Boleh dikatakan begitu, aku orang yg termasuk beridealis tinggi. Tapi tidak menutup kemungkinan idealis itu luntur ketika aku di beri pengertian yg masuk akal. Aku juga belum menemukan dalam Al-quran bahwa mewajibkan utk merayakan nujuh bulanan. Jika ada yg menemukan, aku ingin tau ada di ayat apa ?
Alhamdulillah, istriku satu pemikiran denganku. Yg harus kami lakukan adalah memberikan sesuatu kepada anak yatim di salah satu panti asuhan seperti sembako. Bagiku itu lebih berarti dari pada mandi-mandi yg hanya tradisi. Ini yg dikatakan orang, bahwa norma adat mengalahkan norma agama.