Malam Pertama

Ijab Kabul dah beres, finally aku punya seorang pendamping hidup yg Insyallah akan menemaniku hingga akhir hayat.

Tak terbayangkan olehku bahwa menjadi raja sehari di pelaminan cukup melelahkan. Acara pernikahan memang sengaja aku gabung dengan resepsi. Selain menghemat uang, tujuan lain juga bisa menghemat waktu dan tenaga. Sejak pernikahan selesai, aku dan istriku harus nangkring di pelaminan selama seharian penuh. Perutku sangat terasa lapar, karena malam sebelum acara, aku sama sekali tidak bisa meneguk makanan sedikitpun. Tapi setelah penghulu dan saksi-saksi pernikahan menyatakan kami sah sebagai suami-istri, perut langsung terasa lapar.

Sore tiba, aku dan istriku ganti baju yg sedikit nyantai. Karena tamu juga sudah tidak banyak. Kami harus memasang wajah selalu senyum dari pagi hingga malam, kebayang gak lelahnya tulang pipi.

Sore itu, hanya tamu dari keluarga-keluarga saja yg tertinggal. Jadi pembicaraan agak sedikit santai, mataku tak mendukung suasana. Merah, lelah, dan sedikit pusing karena perut ini belum terisi secara maksimal. Aku mohon diri dulu utk berbaring sejenak di kamar, dan mertua mengijinkan.
→ continue reading